Selasa, 28 Maret 2017

IPTEK TERPADU - PRODI PGSD FKIP UBT

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TERPADU

A.  Pengertian Pembelajaran Terpadu
Ada dua istilah yang memiliki hubungan yang saling terkait, yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum) dan pembelajaran terpadu (integrated learning).
1.   Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi, ketrampilan, dan sikap (Wolfinger,1994:133). Rasional pemaduan itu disebabkan oleh beberapa hal berikut:
a.   Pengalaman belajar bersifat interdisipliner sehingga diperlukan multi-skill
b.   Tuntutan interaksi kolaboratif
c.   Memudahkan anaka membuat hubungan antarskemata
d.   Efesiensi
e.   Tuntutan keterlibatan anak tinggi dalam proses pembelajaran

2.   Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Bermakna artinya siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan mengbungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Menurut Aminudin, (1994). Pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai berikut:
a. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling serta dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak;
b. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan);
c. Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.
d. Menurut Anda dimana letak perbedaannya antara konsepsi kurikulum terpadu dengan pembelajaran terpadu? Apakah dari segi perencanaan dan pelaksanaannya.

B.  Karakteristik Pembelajaran Terpadu
1.   Berpusat pada siswa (student centered)
2.   Memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences)
3.   Pemisahan antarmata pelajaran tidak begitu jelas.
4.   Menyajikan konsep-konsep dari mata pelajaran dalam sutu proses pembelajaran
5.   Bersifat luwes (fleksibel)
6.   Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

Beberapa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu di antaranya:
a.   Kompetensi dasar dalam kurikulm 2004 masih terpisah-pisah kedalam mata pelajaran mata pelajaran yang ada.
b.   Pelaksanannya dibutuhkan sarana dan prasana belajar yang memadai untuk mencapai kompetensi dasar secara optimal.
c.   Belum semua guru sekolah dasar memahami konsep pembelajaran terpadu secara utuh.

C.  Landasan Pembelajaran Terpadu
Landasan ini pada hakikatnya adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para guru pada waktu merencanakan, melaksanakan, serta menilai proses dan hasil pembelajaran.
1.   Landasan filosofis
Perumusan kompetensi dan materi pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis. Ada tiga aliran filsafat sebagai berikut:
a.  Aliran progresivisme menekankan pada penekanan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah dan memperhatikan pengalaman siswa. Dengan kata lain proses pembelajaran bersifat mekanistis (Ellis, 1993).
b. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran.
c.  Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan, potensi dan motivasi yang dimilikinya.
2.   Landasan Psikologis
Berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan teori belajar. Tugas utama guru membantu mengoptimalkan perkembangan siswa seperti perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan moral melalui proses belajar. Pandangan Psikologis yang melandasi pembelajaran terpadu sebagai berikut.
a.  Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri.
b. Pikiran seseorang pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mencari pola dan hubungan antara gagasan yang ada.
c. Pada dasarnya siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang.
d. Keseluruhan perkembangan anaka adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan sekitarnya secara utuh (holistik).
3.   Landasan Praktis
Berkaitan dengan kondisi-kondisi nyata yang pada umumnya terjadi dalam proses pembelajaran saat ini, sehingga harus mendapat perhatian dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu. landasan praktis dalam pembelajaran terpadu sebagai berikut.
a. Perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat sehingga terlalu banyak informasi yang harus dimuat dalam kurikulum.
b. Hamper semua pelajaran di sekolah diberikan secara terpisah satu sama lain, padahal seharusnya saling terkait.
c. Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran sekarang ini cenderung lebih bersifat lintas mata pelajaran (interdisipliner) sehingga dipelukan usaha kolaboratif antara berbagai mata pelajaran untuk memecahkannya.
d. Kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek dapat dipersempit dengan pembelajaran terpadu sehingga siswa akan mampu berfikir teoritis dan pada saat yang sama mampu berpikir praktis.
4.   Perlu dipertimbangkan landasan IPTEK
Untuk menyelaraskan materi pembelajaran terpadu dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia IPTEK, baik secara langsung maupun tidak langsung.

D.  Prinsip-Prinsip Pembelajaran Terpadu
Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1.   Tidak terlalu luas.
2.   Harus bermakna
3.   Disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa
4.   Sebagian besar minat siswa
5.   Mempertimbangkan peristiwa yang otentik
6.   Mempertimbangkan kurikulum yang berlaku
7.   Mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1.   Guru hendaknya tidak otoriter yang mendominasi aktivitas pembelajaran
2.   Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas
3. Guru perlu bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang tidak terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran

Dalam proses penilaian pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1.   Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self evaluation) di samping bentuk penilaian lainnya.
2.   Guru perlu mengajak para siswa untuk menilai perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilam pencapaian tujuan dan kompetensi yang telah disepakati.

E.  MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU
Beberapa manfaat yang dipetik dalam pembelajaran terpadu, antara lain:
1. Menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
2. Siswa melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat
3.  Meningkatakan taraf kecakapan berpikir siswa
4.  Kemungkinan pembelajaran yang terpotong-potong sedikit sekali terjadi
5.  Memberikan penerapan-penerapan dunia nyata
6. Pemaduan antarmata pelajaran diharapkan penguasaaan materi akan semakin baik dan meningkat
7. Pengalaman belajar antarmata pelajaran sangat positif untuk membentuk pendekatan menyeluruh pembelajaran terhadap pengembangan ilmu pengetahuan
8. Motivasi dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam pembelajaran antarmata pelajaran
9. Membantu menciptakan struktur kognitif atau pengetrahuan awal siswa
10. Terjadi kerja sama yang lebih meningkat antara para guru, para siswa, guru-siswa dan siswa-nara sumber lain, belajar lebih menyenangkan belajar dalam situasi yang lebih nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.


Datftar Pustaka


Hernawan, Asep Herry. dkk. (2009). Pembelajaran Terpadu di SD. Jakarta: Universitas Terbuka


Senin, 03 Desember 2012

SILABUS MATA KULIAH PENDIDIKAN IPS

SILABUS MATA KULIAH


1. Deskripsi Mata Kuliah

Mata Kuliah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan  mata kuliah wajib  fakultas
yang  akan  membahas  mengeni  landasan  filosofis  pendidikan  IPS,  konsep  IPS,  definisi  IPS, teori-teori pendidikan IPS dari para ahli, tujuan dan fungsi Pendidikan IPS, materi pendidikan IPS  dari  berbagai  disiplin  ilmu  (  sosiologi,  sejarah,  ekonomi,  dan  geografi),  serta  metode, pendekatan, model dan evaluasi pembelajaran IPS 

Silabus Mata Kuliah

A.  Identitas Mata Kuliah
Nama Mata Kuliah     : Pendidikan IPS
Kode Mata Kuliah      :
Jumlah SKS               : 3 SKS
Semester                    : 2
Program Studi           : Pendidikan IPS
Prasyarat                    : (sesuai dengan semester yang ditawarkan)
Dosen                        : Donna Rhamdan, S.E., M.Pd.

B. Tujuan Umum Mata Kuliah:

Setelah  mengikuti  perkuliahan  ini  mahasiswa  diharapkan  mampu  dapat  memiliki pengetahuan   dan   wawasan    yang    berkaitan    dengan   Pendidikan   IPS,   serta    mampu mengembangan materi IPS, sehingga Pendidikan IPS  yang pada dasarnya materinya melekat dalam kehidupan sehari-hari individu tersebut dapat terinternalisasi pada diri mahasiswa. Dan mahasiswa   makin   memahami   pendidikan   IPS   melalui   metode,   model, serta evaluasi pembelajaran Pendidikan IPS.

C. Proses Pembelajaran

Metode       :  Ceramah,  Studi  kasus,  pemecahan   masalah,   diskusi,  tanya   jawab, dan ekspositori.
Tugas          :  Pembuatan RPP, laporan bab/buku.
Media         : Buku sumber, Internet, koran, majalah.

D. Evaluasi          

Evaluasi  pembelajaran  dilakukan  melalui  kehadiran,  tugas,  laporan  bab/buku,  UTS dan UAS.

F. Rincian Materi Perkuliahan Tiap Pertemuan

Pertemuan 1 :
Pengantar Perkuliahan, syarat-syarat dan tata cara perkulihan, tugas dan sistem penilaian.
Pertemuan 2 :
Filosofis Pendidikan IPS, definisi IPS, Hakekat dan tujuan IPS di Indonesia 
Pertemuan  3: 
Karakteristik  Pendidikan  IPS  di  Indonesia  dan  perkembangannya, materi pembelajaran  IPS,  konsep-konsep  tentang  pendidikan  IPS,  dan  mengenal pendidikan IPS diluar negeri
Pertemuan 4 :
Lanjutan dari pertemuan ketiga,  membandingkan pendidikan IPS di Indonesia dengan Pendidikan IPS diluar negeri,  Membahas  teori pembelajaran IPS serta aplikasinya dalam proses pembelajaran di kelas
Pertemuan  5  : 
Membahas  tentang  teori  dan  prinsip  pendidikan  IPS  yang  berkaitan  dengan disiplin ilmu sosial
Pertemuan  6  : 
Mengenal  kurikulum  Pendidikan  IPS  di  Persekolahan  (tingkat  SD,  SMP, SMA), pembuatan silabus dan RPP
Pertemuan  7  : 
Membahas  tentang  isue-isue  sosial  kontemporer  yang  berkaitan  dengan  ilmu pengetahuan sosial yang dapat diangkat dalam proses pembelajaran IPS. 
Pertemuan 8 : 
UTS
Pertemuan  9  : 
Membahas  tetang  konsep  waktu,  tempat  dan  perubahan  kebudayaan  hasil aktivitas  manusia  dari  masa  ke  masa  serta  peninggalannya  (Manusia  dan kebudayaan)
Pertemuan 10 :
Membahas tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah keruangan dan ketimpangan spatial serta kaitannya dengan lingkungan 
Pertemuan  11 : 
membahas  tentang  proses  produksi,  distribusi  dan  konsumsi  terutama  yang berkaitan  dengan  aktivitas  manusia  dalam  memenuhi  kebutuhan  hidupnya yang tidak tak terbatas sementara sumber amat terbatas 
Pertemuan 12 :
membahas tentang konsep perubahan sosial, Interaksi sosial, kelompok sosial, masyarakat     dan komunitas. Kekuasaan dan kewenangan, sistem ketatanegaraan dan desentralisasi, serta otonomi daerah
Pertemuan  13 : 
Kekuasaan  dan  kewenangan,  sistem  ketatanegaraan  dan  desentralisasi, serta otonomi daerah
Pertemuan 14 :
mempelajari model-model pembelajaran dalam pendidikan IPS
Pertemuan 15 :
Membahas evaluasi pembelajaran IPS.
Pertemuan 16 :
UAS

G. Daftar Buku

Bruce Joyce (2000), Model of teaching, Boston : Allyn dan Bacon

Hassan, S.H,  (1996). Pendidikan Ilmu  Pengetahuan Sosial,  Jakarta,  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Supardan Dadang (2008), Pengantar Ilmu Sosial, Jakarta, Bumi Aksara

Numan Sumantri (2001), Menggagas Pembaharuan IPS, Bandung, Remaja Rosda Karya.

Bloom, B.S. Stability and change in human characteristics. New York 1964 Bandura,  A  &  Walters,  R.H., Social  Learning  and  personality  development. New  York  ; Rinehart & Winston 1963

NCSS (1994), Curriculum standars for social studies :  expectations of excellnt. Washington NCSS

Nursyid Sumaatmadja (2006) , Konsep Dasar IPS, Jakarta. UT Payne, Malcolm, Social Care in the Community, London, Macmillan.

Asmawi Zainul (1999), Assesment atlernatif, Jakarta, UT.

Thorton,  SJ  (1994), The  Social  Studies  near   Century  end. Reconsidering  patterns  of curriculum and instruction, dalam review of Research in Education, 20

W.   Lawrence  Neuman  (1999), Social  Research  Methods  Qualitative  and  Quantitative Approach : Four edition : Allyn and Bacon

Elly  Setiadi,  Kama  A  Hakam,  Ridwan  E  (2007), Ilmu  Sosial  dan  Budaya  Dasar, Jakarta  : Kencana Prenada dan Media Group.

Koentjaraningrat (1986), Pengantar Ilmu antropologi, Jakarta, Aksara baru


Sabtu, 26 November 2011

SILABUS PEMBELAJARAN TERPADU

SILABUS


Program studi       :  Progam Studi PGSD.
Mata kuliah           :  Pembelajaran terpadu
Kode mata kuliah :
Jumlah SKS          :  2
Semester               :  V  (lima).
Pra syarat              :  Perencanaan Pembelajaran, Strategi Belajar dan Pembelajaran.


Deskripsi mata kuliah :

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga sekolah dasar berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) dan telah mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD  kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik.

Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada kelas I - III Sekolah Dasar, yaitu: Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan.

Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Standar Kompetensi :

Setelah mahasiswa mengikuti dan berprestasi dalam perkuliahan ini diharapkan dapat :
1.     Memiliki  pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran terpadu dengan pendekatan  tematik di SD.
2.  Memberi pemahaman kepada calon guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar.
3.  Memberikan wawasan dan pemahaman bagi guru tentang pembelajaran IPA dan IPS terpadu melalui pendekatan tematik.
4. Membimbing mahasiswa agar memiliki kemampuan melaksanakan pembelajaran terpadu antardisiplin ilmu-ilmu sosial pada mata pelajaran IPS
5.    Memberikan keterampilan kepada guru untuk dapat menyusun rencana pembelajaran (memetakan kompentensi, menyusun silabus, dan menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran) dan penilaian secara terpadu dalam pembelajaran IPA dan IPS.

6.    Memberikan acuan dasar dalam pelaksanaan pembelajaran IPA dan IPS Terpadu di SD/MTs

HAKIKAT BELAJAR

HAKIKAT BELAJAR 
MODUL BAHAN AJAR PGSD

A.  PENDAHULUAN
  
Bagian ini mendeskripsikan beberapa pokok materi khususnya yang berkenaan dengan hakikat belajar dan pembelajaran termasuk di dalamnya adalah teori tentang belajar, konsep belajar, teori/konsep mengajar dan akhirnya mengupas mengenai pembelajaran itu sendiri.
Melalui bahan ajar cetak ini Anda akan dipandu untuk melakukan tahapan aktivitas pembelajaran secara bertahap. Panduan tersebut akan mulai dari informasi untuk memahami tahapan pembelajaran dengan bahan ajar cetak (BAC) ini, kemudian Anda membaca petunjuk pengerjaan BAC, memahami kompetensi yang diharapkan dapat dicapai oleh Anda, kemudian Anda juga harus menyelesaikan sejumlah kegiatan belajar, selanjutnya Anda harus mengerjakan latihan dan Tes Formatif yang sudah disediakan. Jika Anda telah mencapai batas skor minimal yang ditetapkan maka selanjutnya Anda diperbolehkan untuk mempelajari materi pada BAC selanjutnya, jika belum maka anda diharapkan mengulang mempelajari kembali materi yang belum Anda kuasai.
  Berdasarkan deskripsi di atas maka BAC ini terdiri dari 3 kegiatan belajar, dengan rincian sebagai berikut :
1.   Kegiatan Belajar-1 membahas mengenai Hakikat Belajar dan Pembelajaran
2.   Kegiatan Belajar-2 membahas mengenai Komponen Pembelajaran,
3.   Kegiatan Belajar-3 membahas mengenai Prinsip-prinsip Pembelajaran.
Setelah mempelajari ketiga kegiatan belajar tersebut,  maka diharapkan Anda  mampu untuk:
a.   Menganalisis hakikat belajar dan pembelajaran sebagai konsep yang utuh sebagai dasar untuk memahami materi mengenai Pengembangan Bahan Pembelajaran SD.
b.   Mengidentifikasi komponen-komponen pembelajaran dan memahami secara komprehensif keterkaitan berbagai komponen tersebut dalam pembelajaran.
c.   Mampu menerapkan prinsip-prinsip dalam pembelajaran yang menjadi pijakan dalam penentuan prinsip-prinsip pengembangan bahan ajar.
KEGIATAN BELAJAR-1.

B.  Hakikat Belajar
Hakikat Belajar 
Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan  proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989:28). Sejalan dengan konsep di atas Cronbach (Surya, 1979:28) menyatakan, “Learning may be defined as the process by which a relavitely enduring change in behaviour occurs as result of exprience or practice”.  Pernyataan tersebut menegaskan bahwa indikator belajar ditunjukkan dengan perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Witherington (1952) menyebutkan bahwa “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai suatu pola-pola respon yang berupa keterampilan, sikap, kebiasaan, kecakapan atau pemahaman”.
Belajar merupakan suatu aktivitas yang disengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu itu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil. Contoh lain, sebut saja Andi,  yang tadinya tidak dapat membaca menjadi dapat membaca adalah karena Andi sudah belajar membaca, demikian pula halnya anak SD menjadi pintar matematika, bahasa, IPA, IPS kalau anak itu rajin belajar bidang studi tersebut. 
Tentu Anda jadi bertanya, kalau begitu apa hakekat belajar itu? Menurut Gagne (1984), belajar adalah suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman (lihat Winataputra dkk, 1997, 23). Dari pengertian tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu: proses, perubahan perilaku dan pengalaman. 
a.   Belajar terjadi karena adanya proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaanya aktif. Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi dirasakan oleh yang bersangkutan sendiri. Guru tidak dapat melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Guru melihat dari kegiatan siswa sebagai akibat adanya aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Sebagai contoh, siswa bertanya, menanggapi, menjawab pertanyaan guru, berdiskusi, memecahkan soal matematika, melaporkan hasil kerja, membuat rangkuman, adalah gejala yang nampak dari aktivitas mental dan emosional siswa. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan manifestasi dari adanya aktivitas mental (berpikir dan merasakan). Bagaimana bila siswa hanya duduk saja pada saat guru menjelaskan pelajaran? Apakah dapat dikategorikan sebagai belajar? Jawabnya adalah apabila siswa tersebut duduk sambil menyimak penjelasan guru, maka dapat diktegorikan sebagai belajar. Tetapi apabila siswa hanya duduk namun pikiran dan perasaannya melayang-lanyang atau melamun di luar pelajaran yang dijelaskan guru, maka siswa tersebut tidak sedang belajar, tetapi sedang melamun. Tetapi perlu dicatat, bahwa belajar tidak hanya dengan mendengarkan penjelaskan guru saja (tidak harus ada yang mengajar), karena belajar dapat dilakukan siswa dengan berbagai macam cara dan kegiatan, asal terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Misalnya dengan mengamati demonstrasi guru, mencoba sendiri, mendiskusikan dengan teman, melakukan eksperimen, memecahkan persoalan, mengerjakan soal, membaca sendiri dan sebagainya. Belajar hendaknya diarahkan pada melakukan aktivitas mental pada kadar yang tinggi. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat. (Arief Sadiman, 1986;1) Coba anda bandingkan dan tentukan mana di antara kegiatan belajar berikut ini yang memiliki kadar aktivitas mental yang tinggi.             
1)   Yulia sedang menyimak penjelasan guru secara seksama, kemudian bertanya mengenai materi yang tidak dipahami;
2)   Andi dan Lia sedang mendiskusikan materi baru dengan dua temannya secara serius.
3)   Rio melakukan eksperimen tentang pentingnya udara bagi hidup manusia.
Jawabannya kegiatan belajar ke dua dan ke tiga merupakan kegiatan belajar yang berkadar aktivitas mental tinggi, Karena siswa menyampaikan argumentasi argumentasi dalam berdiskusi menggunakan proses berpikir (mental) yang kompleks. Sedangkan yang pertama kadar pembelajaran rendah karena siswa hanya diminta untuk mengingat saja apa yang disampaikan gurunya.
b.   Belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku.
Hasil belajar akan nampak pada perubahan perilaku individu yang belajar. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai akibat kegiatan belajarnya. Pengetahuan dan keterampilanya bertambah, dan penguasaan nilai-nilai dan sikapnya bertambah pula. Menurut para ahli psikologi tidak semua perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubahan perilaku karena faktor kematangan, karena lupa, atau karena minum minuman keras bukan termasuk sebagai hasil belajar, karena bukan perubahan dari hasil pengalaman (berinteraksi dengan lingkungan), dan tidak terjadi proses mental emosional dalam beraktivitas. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga domain yaitu: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik. Domain kognitif meliputi perilaku daya cipta, yaitu berkaitan dengan kemampuan intelektual manusia, antara lain: kemampuan mengingat (knowledge), memahami (comprehension), menerapkan (application), menganalisis (analysis), mengevaluasi (evaluate) dan menciptakan (create). Domain afektif berkaitan dengan perilaku daya rasa atau emosional manusia, yaitu kemampuan menguasai nilai-nilai yang dapat membentuk sikap seseorang. Domain psikomotorik berkaitan dengan perilaku dalam bentuk keterampilan-keterampilan motorik (gerakan fisik). Pada pembelajaran, perubahan perilaku sebagai hasil belajar yang ingin dicapai ini dapat dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran atau rumusan kompetensi yang ingin dicapai dengan segala indikatornya. Contoh rumusan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran: “Siswa dapat mengubah pecahan biasa ke dalam bentuk pecahan desimal dan mengurutkannya” Kata dapat mengubah  merupakan perilaku hasil belajar yang akan dicapai dalam pembelajaran. Silahkan Anda mencoba merumuskan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang lain.  Diskusikan hasilnya dengan rekan sesama mahasiswa atau kolega Anda sesama guru SD
c.   Hasil belajar diperoleh dari pengalaman
Belajar adalah mengalami, dalam arti bahwa belajar terjadi karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah lingkungan di sekitar individu baik dalam bentuk alam sekitar (natural/alamiah) maupun dalam bentuk hasil ciptaan manusia (cultural/budaya). Macam-macam lingkungan fisik yang bersifat alamiah antara lain pantai, hutan, sungai, udara, air, dan sebagainya. Bersifat budaya adalah buku, media pembelajaran, gedung sekolah, perabot sekolah, dan sebagainya. Adapun lingkungan sosial siswa di antaranya guru, orang tua, pustakawan, pemuka masyarakat, kepala sekolah. Lingkungan pembelajaran yang baik ialah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa untuk belajar. Guru yang mengajar tanpa menggunakan alat peraga tentu kurang merangsang/menantang siswa untuk belajar. Apalagi bagi siswa SD yang perkembangan intelektualnya masih membutuhkan alat peraga untuk memudahkan penjelasan dan pemahaman berbagai konsep yang abstrak sifatnya. Semua lingkungan yang diperlukan untuk belajar siswa ini harus dirancang secara utuh agar sebagai bahan belajar agar proses pembelajaran menjadi efektif. Belajar dapat dilakukan melalui pengalaman langsung maupun pengalaman tidak langsung. Siswa yang melakukan eksperimen adalah contoh belajar dengan pengalaman langsung. Sedangkan siswa yang belajar dengan mendengarkan penjelasan guru atau membaca buku adalah contoh belajar melalui pengalaman tidak langsung. Coba Anda tetapkan mana kegiatan belajar berikut ini yang merupakan pengalaman langsung dan tidak langsung. 
1)   Siswa kelas IV sedang mengamati permukaan air dalam sebuah bejana berhubungan, untuk mengetahui salah satu sifat air. 
2)   Siswa kelas III sedang mendeng arkan penjelasan guru tentang bagaimana proses terjadinya gerhana matahari dan bulan. 
3)   Siswa kelas I SD belajar menghitung penjumlahan dan pengurangan 1 – 10 menggunakan jari-jari tangannya. 
4)   Dalam kunjungan di tempat bersejarah, siswa kelas V SD mendapat penjelasan dari juru kunci (penjaga) tentang sejarah tempat yang dikunjungi tersebut. 
Dari keempat tugas latihan tersebut, jelas tugas pertama dan ketiga merupakan pengalaman langsung, sedang tugas kedua dan keempat merupakan pengalaman tidak langsung. Dari beberapa kutipan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yang menyangkut pengertian belajar sebagai berikut.
1)   Belajar merupakan suatu proses, yaitu kegiatan yang berkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terus berlangsung seumur hidup. Dalam belajar terjadi adanya perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen.
2)   Hasil belajar ditujukan dengan aktivitas-aktivitas tingkah laku secara keseluruhan.
3)   Adanya peranan kepribadian dalam proses belajar antara lain aspek motivasi, emosional, sikap dan sebagainya.
4)   Hasil belajar terjadi karena adanya perubahan perilaku sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan.

Beberapa ahli pendidikan menguraikan terjadinya proses belajar (Bigge, 1982; Willis 1986: 20; dan Crow & Crow dalam Surya, 1979:32). Proses belajar terjadi apabila individu dihadapkan pada situasi di mana ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan cara biasa, atau apabila ia harus mengatasi rintangan-rintangan yang mengganggu kegiatan-kegiatan yang diinginkan. Proses penyesuaian diri mengatasi rintangan terjadi secara tidak sadar, tanpa pemikiran yang banyak terhadap apa yang dilakukan. Dalam hal ini pelajar mencoba melakukan kebiasaan atau tingkah laku yang telah terbentuk hingga ia mencapai respon yang memuaskan. Belajar merupakan suatu proses interaksi antara berbagai unsur yang berkaitan. Unsur utama dalam belajar adalah individu sebagai peserta belajar, kebutuhan sebagai sumber pendorong, dan situasi belajar yang memberikan kemungkinan terjadinya kegiatan belajar. Dengan demikian maka manifestasi belajar atau perbuatan belajar dinyatakan dalam bentuk perubahan tingkah laku. Mengenai jenis perubahan tingkah laku dalam proses belajar ini, Gagne dan Briggs, (1988:105), menyatakan bahwa perbuatan hasil belajar menghasilkan perubahan dalam bentuk tingkah laku dalam aspek a) kemampuan membedakan; b) konsep kongkrit; c) konsep terdefinisi; d) nilai; e). nilai/aturan tingkat tinggi; f) strategi kognitif; g) informasi verbal; h) sikap ; dan i) Keterampilan motorik. 

Teknologi Pendidikan dan Esensinya

Istilah “teknologi” berasal dari bahasa yunani yaitu Technologis . Technie berarti seni, keahlian atau sains dan logis yang berarti il...